top of page

PENJAHAT HATI

PENJAHAT HATI

Penghuni Lembaga Pemasyarakatan (lapas) setiap harinya terus bertambah. Bahkan di beberapa penjara di Indonesia kapasitasnya sudah melebihi kuota. Sepeti yang diberitakan di beberapa media belakangan ini, banyak terjadi kerusuhan di penjara karena disebabkan oleh kelebihan kapasitas. Apa yang menarik dari fakta tersebut? Jika Anda berpikir yang menarik adalah tingkat kejahatan di Indonesia sudah sedemikian parah sehingga sudah begitu banyak orang jahat di republik ini. Itu baru yang tertangkap, belum lagi yang belum tertangkap. Pendapat seperti itu memang ada benarnya, namun saya akan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.  

Kita tahu bahwa kalau kita berbuat jahat seperti membunuh, menganiaya, mencuri, merampok, menipu, korupsi, dan masih banyak lagi jenis kejahatan lainnya, untuk semua kejahatan tersebut sudah disiapkan perangkat hukumnya. Ada polisinya, ada pengadilannya, dan ada penjaranya. Itu semua adalah  sebagai hukuman atas kejahatan yang sudah dilakukan seseorang. Kenapa harus dihukum? Ya kerena mereka sudah merugikan orang lain dan supaya tidak mengulanginya lagi di kemudian hari.

Sebetulnya masih ada satu lagi jenis kejahatan yang bisa merugikan orang lain (tidak secara langsung) dan merugikan dirinya sendiri. Kejahatan yang dimaksud adalah kejahatan hati. Untuk kejahatan yang satu ini, tidak ada polisinya, tidak ada pengadilannya, dan tidak ada penjaranya. Sama dengan kejahatan biasa, kejahatan hati pun bermacam-macam jenisnya. Diantaranya adalah: Iri, dengki, dendam, kebencian, sombong, dan masih banyak lagi.

Sebut saja kita membenci seseorang yang telah menyakiti hati kita. Apakah dia pernah berhianat, memfitnah, atau apapun perbuatan buruknya kepada kita. Yang pasti dampak dari perbuatannya itu membuat hati kita terluka. Menurut pandangan umum, rasanya sudah sepantasnyalah kita membenci dia. Dan saat kita membenci dia rasanya kita seperti sedang menghukum dia, tapi kenyataannya kita sedang menghukum diri sendiri. Kerena yang menderita bukan dia tetapi diri kita sendiri.

Untuk mengobati perasaan menderita karena perasaan kita dilukai oleh seseorang sebetulnya sangat sederhana, yaitu dengan memaafkannya. Malah Anda harus bersukur. Kenapa? Karena bukan Anda yang berhianat, tetapi orang itu. Jadi Anda tidak merugi di pengadilan Tuhan nanti. Untuk kasus kebencian ini, saya teringat akan sebuah cerita inspirasi yang sangat terkenal dan mudah di dapatkan di dunia maya.

Seorang guru bijak disebuah Taman Kanak-Kanak hendak mengajarkan pada anak didiknya mengenai “kebencian”: “Anak-anak yang baik, hari ini kita akan belajar tentang kebencian.” Sambil tersenyum melihat muridnya yang masih polos-polos itu kebingungan, Bu guru melanjutkan dengan pertanyaannya: “Tau ngga anak-anak kenapa kita harus membuang jauh-jauh perasaan benci itu? Masih tak ada jawaban. ”Ya udah gini deh, besok kalian bawa kentang ya.” Lalu seorang murid pemberani bertanya: ”berapa banyak Bu?” Sambil tersenyum Ia menjawab, ”Bawa kentang sebanyak orang yang kalian benci. Jadi kalau kalian membenci dua orang, bawalah kentang dua buah. Oya anak-anak, kentang-kentang itu pilih yang paling besar dan masukan kedalam tas kalian masing-masing, selanjutnya tunggu instruksi Ibu kapan kentang itu boleh dikeluarkan dari tas kalian.”

Rupanya anak-anak sangat antusias menjalankan tugas itu. Ada yang membawa kentang satu, dua, tiga, bahkan ada yang membawa lima kentang. Hari pertama mereka sudah mulai mengeluh, ”aduh berat banget tasnya..”. Tapi rupanya belum ada perintah dari Bu guru untuk mengeluarkan kentang-kentang itu. Baru pada hari ketiga dimana anak-anak nampak sudah tak tahan lagi dengan berbagai keluhannya itu, Bu guru memerintahkan untuk membuang kentang-kentang kebencian itu ke tempat sampah.

”Anak-anakku tercinta, kentang-kentang yang kalian bawa itu, sama seperti kebencian. Semakin banyak orang atau peristiwa yang kalian benci, semakin beratlah beban hidup kalian. Coba sekarang kalian keluarkan kentang-kentang itu dari tas kalian, lalu angkat tas kalian, enteng bukan? Jadi kalau begitu kenapa tidak keluarkan saja kebencian-kebencian itu dari kehidupan kalian agar nyaman dan ringan langkah hidup kalian?”

Semoga kita semua bisa terbebas dari melakukan kejahatan hati yang hanya akan merugikan diri sendiri. Pastikan kita memiliki hati yang baik, yang akan berdampak baik bagi kehidupan dunia dan akhirat kita. Kerana hati adalah sumber kebaikan dan keburukan seseorang. Kualitas diri seseorang, ditentukan oleh kualitas hatinya. Sangat tidak mungkin pikiran dan sikap seseorang baik jika hatinya jahat.

Untuk mengobati perasaan menderita karena dilukai perasaan kita oleh seseorang sebetulnya sangat sederhana, yaitu dengan memaafkannya. Malah Anda harus bersukur. Kenapa? Karena bukan Anda yang berhianat, tetapi orang itu. Jadi Anda tidak merugi di pengadilan Tuhan nanti.

By. Sigit Risat | 24 November 2016 | Mind Heart Connection

© 2023 by EMILIA COLE. Proudly created with Wix.com

bottom of page